Bab 171 - Si Kharismatik Charlie Wade

 Charlie meninggalkan rumah keluarga White, sementara semua orang terus menatapnya penuh kagum.

Jasmine terus-terusan memperhatikan Charlie selama perjalanan mengantarnya pulang.

Saat ini, Charlie terlihat seperti orang biasa yang sama seperti biasanya. Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang penuh kekuatan dan berkuasa seperti sebelumnya.

Jasmine merasa sedikit curiga saat ini.

Ketika Charlie berada di halaman tadi, dia memancarkan aura yang sangat hebat dan misterius.

Namun, saat ini Charlie yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya tampak seperti orang biasa.

Jasmine tidak tahu, apakah itu disengaja atau hanya ilusi.

Oleh karena itu, Jasmine akhirnya bertanya, "Tuan Wade... apakah yang memanggil petir dan kilat tadi memang Anda?"

Charlie menatap Jasmine kemudian dia tersenyum.

"Kenapa Anda tidak berusaha menebaknya? Apakah Anda percaya, kalau saya bilang bahwa itu hanya kebetulan?"

Saat ini, peristiwa Charlie memanggil petir dan kilat tiba-tiba terlintas di benak Jasmine.

Charlie berdiri begitu percaya diri ketika memanggil petir dan kilat.

Wanita mana pun akan jatuh cinta padanya, jika mereka melihat betapa kerennya dia.

Saat ini, Jasmine merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Namun, ketika dia memikirkannya, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.

Lelucon macam apa itu!

Bahkan, fisikawan terkuat di dunia ini pun tidak akan mampu mengendalikan petir!

Jika Charlie bisa memanggil petir dan kilat kapan pun dia mau, mengapa dia menjadi menantu miskin dari keluarga Wilson?

Apakah petir dan kilat itu memang hanya kebetulan?

***

Begitu Charlie tiba di depan pintu rumahnya, dia mendengar suara ibu mertuanya, Elaine, dari dalam rumah.

"Aku sudah memberitahumu untuk mencari suami yang bisa diandalkan, tapi kamu menolak mendengarkan nasihatku! Lihatlah, betapa hebatnya menantu Rachel! Dia bahkan bisa memberikannya rumah dengan empat kamar tidur! Ukuran rumahnya lebih dari 180 m2! Lihat rumah kita. Luasnya hanya sekitar 120 m2. Apa kamu tahu, betapa memalukannya itu bagiku?"

Setelah itu, Elaine melanjutkan, "Orang lain dapat mengandalkan menantu mereka, tapi pria yang kamu nikahi itu tidak berguna! Bagaimana aku bisa mengandalkan Charlie? Kalau aku harus bergantung padanya, aku khawatir tidak akan pernah bisa tinggal di rumah besar seumur hidupku!"

Saat ini, Claire tiba-tiba berbicara dengan nada kesal, "Bu, kenapa Ibu selalu iri dengan apa yang dimiliki orang lain? Aku sudah menjadi direktur! Kalau kita menabung beberapa tahun lagi, kita pasti bisa membeli rumah baru yang lebih besar."

Saat ini, ibu mertua Charlie mencibir sambil berkata, "Kamu ingin aku menunggu berapa tahun lagi? Mungkin aku sudah mati saat itu! Sejak kamu menikahi Charlie, kita tidak pernah mengalami satu hari pun yang menyenangkan dalam hidup kita! Mengapa kita masih tinggal di rumah yang sama dengan tempat kamu dibesarkan? Semua temanku menjalani hidup yang lebih baik dariku!"

Claire hanya menjawab, "Bu, mengapa Ibu selalu membuat perbandingan seperti itu? Apakah itu membuat Ibu lebih bahagia?"

"Aku muak dengan ini!" Elaine terus mengeluh. "Aku benci, aku selalu kalah dari teman-temanku! Aku benci itu!"

Charlie menggelengkan kepalanya, lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah dengan sikap lesu.

Elaine mendengus begitu dia melihat Charlie pulang. "Akhirnya kamu sudah pulang? Apakah kamu tahu, jam berapa sekarang? Kapan kamu akan mulai memasak? Aku sudah kelaparan!"

Charlie tersenyum sebelum berkata, "Oke, Bu. Aku akan mulai memasak sekarang."

Setelah itu, Charlie segera pergi ke dapur.

Charlie memahami karakter Elaine dengan sangat baik. Dia selalu merasa sangat tidak nyaman dan iri pada orang lain, setiap kali orang lain memiliki sesuatu yang tidak dia miliki.

Jika Elaine tahu bahwa Zeke memberinya vila, dia pasti segera mendekat ke Charlie dan mengatakan segala macam hal manis kepada Charlie, supaya dia bisa mendapatkan pertolongan dari Charlie.

 
Next Post Previous Post