Bab 56 - Si Kharismatik Charlie Wade

Para tamu memberikan hadiah untuk Douglas. Dengan lukisan di belakangnya, Charlie berjalan menuju Douglas dan berkata, "Selamat, Teman. Ini hadiah kecil dari kami untuk merayakan upacara pembukaan restoranmu."

Claire berkata sambil tersenyum, "Douglas, selamat dan doa terbaik untuk acara pembukaan ini. Semoga bisnismu sukses di tahun-tahun mendatang!"

"Terima kasih, terima kasih!" Douglas cepat menyahuti. Kemudian, dia mendekat ke arah telinga Charlie dan berbisik dengan senyum jahil, "Hei, aku lihat kamu dan primadona kita memiliki hubungan yang cukup dekat, tidak seperti rumor! Kapan kamu berencana punya anak?"

Claire tersipu malu ketika mendengar bisikan itu. Charlie membalas, "Hentikan. Jika dia hamil, kamu adalah orang pertama yang akan tahu dan aku mengharapkan hadiah darimu!"

"Tentu saja!" Douglas tertawa dan mengangguk. "Aku akan memberikan hadiah yang besar!"

Pada saat itu, seorang wanita yang berwajah biasa saja tapi riasannya tebal muncul mendekati Douglas dan berkata, "Douglas, siapa mereka?"

"Ini adalah teman kuliahku, Charlie! Dan ini adalah istrinya, primadona kelas dan juga istri Charlie."

Setelah memperkenalkan mereka, Douglas memperkenalkan wanita di sampingnya, "Ini tunanganku, Lily Lewis."

"Oh? Dia si berengse..."

Lily berseru, kemudian dia sadar dia salah bicara, maka, dia berdeham dan berbicara sambil tersenyum, "Douglas selalu bercerita tentangmu, kalian berdua memang sungguh pasangan serasi yang ditakdirkan oleh surga!"

Charlie tidak memperdulikan ucapannya dan menyerahkan lukisan itu kepada Lily. "Ini adalah hadiah kecil dari kami."

Lily tersenyum. "Oh, tidak usah repot-repot!"

Berbanding terbalik dengan perkataannya, Lily segera membuka hadiah itu.

Charlie menyahuti, "Selesaikan urusanmu, kami bisa mengurus diri kami sendiri."

"Oke," Douglas menyampaikan permintaan maafnya, "Maaf, Charlie, aku harus menyapa teman-teman yang lainnya."

Tak lama setelah Charlie dan Claire pergi, Lily dengan cepat membuka kotak hadiah itu dan menemukan gulungan di dalamnya. Dia mengerutkan dahinya dengan kesal dan berkata, "Apa ini? Apa yang temanmu berikan ke kita?"

Douglas menjawab, "Tidakkah kamu bisa melihatnya? Itu lukisan!"

"Huh!" Lili berdecak kesal. Dia membuka gulungan itu dan memandanginya dengan cibiran, "Apa-apan ini! Lukisan tua dan usang, aku bertaruh harganya hanya $1.000 atau $2.000."

Douglas berkata dengan galak, "Kamu tidak bisa menilai sesuatu dari harganya! Ketulusan dan niat baik mereka yang terpenting."

"Ahh, cukup dengan ceramahmu! Aku peringatkan, jangan lagi berhubungan dengan teman semacam dia! Mereka tega memberi kita lukisan kecil sialan ini yang bahkan tidak bisa menutupi tagihan makan!"

Wajah Douglas memerah karena kesal. "Lily, apakah kamu harus sesombong itu?"

Lily menggeram marah, "Douglas Adam, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Aku sombong? Jika aku memang sombong, kenapa kamu ingin bersamaku, dasar miskin! Jangan lupa, ayahku telah menginvestasikan sebagian besar uangnya untuk restoran ini!"

Douglas berkedip kaget, sedikit terkejut dan malu.

Clinton berjalan ke arah mereka pada saat itu. Dia sepertinya sudah merasa lebih baik setelah kejadian mobilnya terbakar, ekspresi sombong dan angkuhnya muncul lagi di wajahnya.

Dia menyerahkan amplop tebal dan berkata santai, "Doug, aku tidak tahu apa yang harus aku berikan padamu, jadi ini, amplop 'bantuan keuangan'.

"Lily mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya ketika menerima amplop itu. Dia meremas amplop itu dan memperkirakan isinya sekitar $8.000-$10.000, jadi dia tersenyum bahagia dan berkata, "Terima kasih banyak!"

Clinton mengibaskan tangannya dengan santai dan bertanya, "Aku lihat Charlie memberikan sesuatu, apa itu?"

Lily mendengus kesal, "Uhm, lukisan, itu pasti dari pasar loak, sampah seharga $100 atau $200!"

Clinton menyeringai, "Dasar pecundang, tetap saja pecundang!"     

Next Post Previous Post
Related Post
charlie wade,Novel