Bab 121 - Si Kharismatik Charlie Wade

 Sambil memegang kakinya, Loreen tahu pria itu tidak berbohong ketika dia melihat darah keluar di antara jari-jarinya. Tapi, pikirannya sedang berjuang keras memikirkan membuka celananya di depan pria asing.

Dalam menghadapi situasi hidup dan mati, Loreen sejenak ragu dan akhirnya berkompromi dengan kenyataan.

Dia tidak ingin mati, apalagi menjadi cacat.

Loreen menatap pria bertopeng itu, wajah Loreen memerah karena malu, jantungnya berdebar kencang, seluruh tubuhnya bergetar karena canggung.

Akhirnya, dia berkata dengan lemah, "Oke, terima kasih."

Charlie mengangguk karena Loreen menurutinya. Dia berjongkok, meraih celananya dengan kedua tangan, dan merobeknya dengan paksa.

Loreen menunduk dan melihat ke arah lain, dia menarik napas dalam-dalam, wajahnya panas saat disentuh, jantungnya hampir lepas dari tulang rusuk karena detakan keras.

Charlie setenang danau. Melihat bahwa luka tusukan ada di kaki kiri Loreen, dia menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya, mengarahkan ke titik akupuntur, dan menekannya dengan keras.

Sedikit Reiki ditransfer dari jari-jarinya ke dalam luka itu.

Charlie memusatkan pandangannya hanya pada luka itu dan tidak ke tempat lain.

Dia bertindak cepat. Setelah beberapa titik akupuntur ditekannya, darah secara bertahap berhenti.

Menurut teknik medis yang diilustrasikan di dalam Buku Apokaliptik, dia dapat dengan mudah menyembuhkan luka Loreen dan menghubungkan kembali pembuluh darah dan jaringannya, dia bahkan dapat menutup lukanya, tetapi dia tidak melakukan itu.

Charlie hanya menggunakan jari-jarinya sebagai jarum akupunktur untuk menghentikan pendarahannya dan menyembuhkan urat dan ototnya yang putus. Loreen masih harus ke Rumah Sakit untuk mengobati lukanya yang tidak terlalu dalam dan kemudian akan diperbolehkan pulang.

Loreen gugup saat pria bertopeng itu merawat lukanya. Anehnya, setelah pria itu mengetukkan jari-jarinya di kakinya, rasa sakitnya berkurang dan darah berhenti mengalir, itu membuatnya sangat terkejut.

Dia tidak menyangka bahwa pengobatan Cina, yang menurut keluarganya tidak berguna dan sia-sia, lebih efektif dan efisien dari pada pengobatan Barat!

"Oke, sudah selesai," ujar Charlie datar dan berdiri tanpa memandang lagi. "Cobalah untuk berdiri dan lihatlah."

Seperti yang disarankan, Loreen mencoba berdiri dan benar-benar terkejut saat kakinya berhenti mengeluarkan darah.

Dia mengangkat wajahnya yang memerah dan berkata dengan takut-takut, "Karena kamu tidak mau memberitahu namamu, bisakah setidaknya memberiku kesempatan untuk membalas budi?"

"Tidak perlu, terima kasih," ucap Charlie tegas. Dia tidak ingin memberitahu identitas dirinya."

Tapi, kamu sudah menyelamatkan aku. Jika aku tidak bisa membalas budi, aku akan berutang budi kepadamu selamanya," ucap Loreen keras kepala. Dia melepas kalung dari lehernya dan berkata, "Kalung ini adalah hadiah dari kakekku di pesta kedewasaanku. Kamu telah menyelamatkan hidupku, aku ingin memberikannya padamu."

Di telapak tangannya ada kalung platinum dengan liontin bertatahkan berlian merah muda sebening kristal.

Charlie ingin menolak hadiah itu, tetapi dia merasakan cahaya Reiki memancar pada berlian merah muda itu, maka dia berubah pikiran dan menerimanya.

Kemudian, Charlie melepaskan jaketnya, mengikatnya di pinggang Loreen dan berkata, "Maafkan aku, karena sudah merobek celanamu. Aku sudah menelepon Rumah Sakit terdekat menggunakan ponselmu, ambulans akan datang dalam beberapa menit. Kamu aman sekarang. Aku ada urusan lain yang harus diselesaikan, permisi."

Kemudian, Charlie berbalik dan menghilang di balik semak-semak tanpa menoleh ke belakang.

"Hei, tunggu..." teriak Loreen, tetapi pria itu menghilang dari pandangannya.

Saat ini, dia mendengar sirene ambulans berbunyi di luar taman.

Dia menatap ke bawah ke jaket yang membungkus pinggangnya dan kemudian ke arah pria bertopeng itu menghilang, merasa bingung dan tidak mengerti.

Tiba-tiba, dia merasa pria itu terlihat tidak asing ketika dia berbalik dan pergi.

Dia menggali ingatannya, mencoba mencocokkan gambaran itu, dan tiba-tiba teringat bahwa sosok itu tampak persis seperti Direktur Emgrand Group!

"Apakah dia Direktur Emgrand Group?" Jantung Loreen berdetak kencang.

Tapi, dia tidak tahu namanya, dia juga tidak melihat wajah pria itu, bagaimana dia bisa tahu bahwa tebakannya benar?

Tepat pada saat ini, Loreen menemukan kerikil abu-abu di tempat lelaki itu berjongkok, kerikil dengan tulisan "Damai dan Sejahtera" di atasnya.

Next Post Previous Post
Related Post
charlie wade,Novel