Bab 111 - Si Kharismatik Charlie Wade

 Graham tersenyum sebelum dia berbicara lagi dengan hormat, "Tuan Wade, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda terhadap keluarga Quinton. Mungkin kalau hari ini agak terburu-buru sehingga kami tidak punya waktu untuk membuat persiapan sama sekali, tapi, saya ingin mengundang Anda ke rumah keluarga Quinton untuk makan malam besok. Saya ingin mengadakan jamuan makan untuk berterima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Wade."

"Tidak perlu, besok aku ada keperluan." Charlie menjawab dengan santai saat dia menggelengkan kepalanya. "Satu-satunya alasan mengapa aku membantu Anda hari ini adalah karena aku tahu bahwa Anda selalu melakukan perbuatan baik pada orang lain. Jika tidak, aku tidak akan membantu Anda sama sekali. Apakah Anda mengerti apa yang aku katakan?"

Graham terkejut mengenai hal ini. Tetap saja, dia tertawa sebelum mengangguk. "Saya mengerti! Tuan Wade, jangan ragu untuk datang dan mencari saya, jika Anda membutuhkan bantuan nantinya. Keluarga Quinton akan selalu menyambut Anda."

Setelah itu, Graham buru-buru mengeluarkan kartu nama berwarna keemasan yang berisi informasi kontak pribadinya.

Charlie mengambil kartu nama dari Graham bahkan tanpa melihatnya, lalu berbalik dan mengajak ayah mertuanya keluar dari tempat itu.

Graham terus menatap punggung mereka saat dia melihat mereka berdua perlahan meninggalkan tempat itu. Setelah itu, dia berbalik dan menatap Adam. "Mulai sekarang, aku ingin kamu membungkuk dan menyapa Tuan Wade dengan hormat jika kamu bertemu dengannya di Aurous Hill. Jangan membuat aku repot lagi!"

Adam menjawab dengan sedih. "Aku tidak tahu bahwa aku akan membuat orang seperti dia tersinggung..."

Ekspresi wajah Aurora dingin, dan dia mengertakkan gigi saat dia melihat Charlie pergi.

Meskipun dia benar-benar menghormati Charlie atas keterampilan dan pengetahuannya, dia tidak bisa melupakan atau memaafkannya karena Charlie telah menendang pantatnya.

Lagi pula, bagi gadis sombong seperti dia, hal semacam ini tidak bisa dimaafkan.

Graham mendesah saat dia mencoba menghiburnya. "Aurora, jangan mencoba membalas Tuan Wade, oke? Keluarga kita mengandalkan dia untuk menyelesaikan kesialan ini..."

"Apakah menurut Paman itu benar-benar akan berhasil?" Adam bergumam.

Graham tidak bisa menahan diri untuk memarahi Adam. "Jika kamu terus berbicara omong kosong, aku akan segera mematahkan kakimu!"

Adam diam karena tidak berani membuat pamannya marah lagi.

Aurora juga menginjak kakinya dengan kesal saat dia berkata, "Aku tahu, Ayah... aku tidak akan membuatnya tersinggung..."

Namun, semakin dia memikirkannya, dia semakin marah dan tidak nyaman.

"Sayang sekali..." Graham tiba-tiba mendesah sambil menggelengkan kepalanya.

Aurora menoleh ke ayahnya sebelum dia bertanya, "Sayang sekali?"

Graham meliriknya sebelum berkata, "Sayangnya, Tuan Wade sudah menikah. Kalau tidak, kupikir kalian berdua akan menjadi pasangan yang serasi..."

"Ayah, apa yang Ayah bicarakan?!" Aurora menjawab dengan malu dan kesal.

***

Jacob masih diliputi keterkejutan saat mereka pulang.

Dia tidak percaya bahwa kepala keluarga Quinton sangat menghormati menantunya yang bukan siapa-siapa.

"Charlie, apakah semua yang kamu katakan kepada Tuan Quinton benar?"

Jacob bertanya pada Charlie karena dia sangat bingung. Sepertinya menantunya semakin menjadi pembohong.

Charlie terkekeh sebelum menjawab, "Ya, setengahnya benar, dan setengahnya mungkin tidak. Bukankah menarik untuk membuatnya semisterius mungkin?"

Jacob terkejut atas jawaban Charlie dan segera menegurnya. "Ya Tuhan, apa yang telah kamu lakukan? Aku tidak percaya, kamu berani berbohong kepada keluarga Quinton. Kamu bahkan menerima gelang giok mahal dari mereka! Apakah kamu tahu apa yang akan mereka lakukan kepada kita, jika mereka tahu bahwa kamu berbohong kepada mereka?"

Charlie menggelengkan kepalanya saat menjawab, "Memangnya apa? Paling-paling, aku akan mengembalikan gelang giok itu kepada mereka. Apa yang bisa mereka lakukan padaku? Membunuhku?"

Jacob hanya bisa menghela napas karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia jelas khawatir, tetapi setelah memikirkannya, tidak banyak yang bisa dilakukan keluarga Quinton kepada mereka. Mungkin, metode Charlie benar-benar berhasil untuk membantu keluarga Quinton. Mereka hanya bisa mengambil taruhan itu.

Ketika sampai di rumah, Charlie pergi ke kamar tidurnya sebelum mengambil batu kerikil dengan tulisan 'Kedamaian dan Kesejahteraan' yang dia beli dari Zachary.

Tiba-tiba, dia merasakan gelombang energi dari batu kerikil menembus ke dalam tubuhnya.

Gelombang itu membuatnya merasa sangat hangat, tetapi dada dan perutnya terasa sangat tidak nyaman.

Tak lama setelah itu, Charlie mulai berkeringat sangat banyak, dan ada kotoran hitam yang keluar dari tubuhnya. Setelah selesai, Charlie bisa merasakan otot tubuhnya perlahan-lahan mengendur.

Next Post Previous Post
Related Post
charlie wade,Novel